Tuesday, January 13, 2009

Why I move ...

I still can't really answer the question easily and consistently to people even one month after. My answer to that same single question could be vary from one people to another and from one time to another.

Let's make it short: I move because ... I beat myself!

./Salam,

Wednesday, December 17, 2008

What do you work for?

Some people work for survival.

They can be a burglar in the street or can be an employee in the office.


Some people work for glory.

They can be an investor in the penthouse or can be a celebrity in the show.


Some people work for belief.

They can be a politician in the congress or can be a Greenpeace warrior in the arctic.


What do you work for? Or do you have some other else?


./Salam,

Monday, November 24, 2008

Off-the-box seputar pro-kontra emas sbg instrumen investasi

Banyak pro dan kontra seputar diskusi emas sebagai instrument investasi. Sempat dulu berpikir mengapa emas dikaitkan dgn investasi. Padahal emas adalah logam yg orang sebut logam mulia dan tidak memberikan manfaat apapun dalam sektor real. Baru abad2 akhir ini emas digunakan di industri mikroelektronika.

Namun ternyata banyak hal yg layak u/ dikupas dari fakta ttg emas sbg logam mulia yg memiliki daya tarik yang luar biasa ini. Pemikiran tsb adalah sbb:

1) Emas sebagai unsur di alam dgn symbol kimia “Au” (latin aurum) memiliki keistimewaan utama dgn tingkat ketahanannya thd oksidasi sehingga sukar u/ berkarat. Di alam, lebih sering ditemukan dlm bentuk native dan sedikit ditemukan bersenyawa dgn perak dan bbrp unsur lainnya. Oleh krn itu disebut logam mulia krn sifatnya yg sangat stabil dan sulit u/ bereaksi kimia dgn unsur lainnya.

2) Krn sifatnya yg stabil tsb, emas menjadi lambang suatu keabadian dan kepastian. Suka atau tidak suka, sifat absolute ternyata sangat dibutuhkan dalam peradaban manusia. Salah satunya adalah dalam aspek hubungan antar manusia. Contoh implementasi realnya adalah dlm transaksi ekonomi/dagang/barter memerlukan aspek kepastian yg jelas agar kesepakatan antar pihak dapat dicapai i.e. takaran vs harga. Transaksi yg tidak pasti, vague adalah bentuk transaksi yg beresiko dan lebih baik dihindari krn dapat menimbulkan sengketa dan perselisihan.

3) Emas seringkali dijadikan penengah transaksi dmana nilai suatu transaksi disandarkan kepadanya agar dicapai kesepakatan yg netral. Sebagai penengah/mediator, emas melambangkan peran dan fungsi penjamin yg terbukti sangat terpercaya dan handal dlm hal keabadian dan kepastian dalam waktu yg relative lama (krn sifat kimia di-atas red). Lebih lama dibanding umur hidup manusia sebagai pelaku transaksi itu sendiri. Oleh krn itu, transaksi dgn penjaminan emas, atau sekedar menakar dgn bersandarkan kepada emas akan lebih menjamin aspek kepastian secara intrinsic di dalam transaksi tsb.

Nah, dgn 3 pemikiran di-atas, mudah2an kita bisa lebih memahami fungsi dan peran emas dalam hubungan antar manusia, terutama dalam bidang ekonomi. Kita bisa lebih jernih dalam menilai misalnya apakah pokok2 pikiran agreement Bretton Woods tsb bijak atau tidak, apakah emas layak dijadikan sbg instrument investasi atau tidak, dsb.

./Salam,

Wednesday, December 26, 2007

Wisdom Road Map

It is started out by the fact. Fact is realm of reality, existence, truth, evidence and so on. The universe and all of its contents are the fact.

Fact has attributes, e.g. name of the fact, name of the event, location, timing, etc. When it is recorded or documented as it is at its given characteristics then it is called data.

Facts that are recorded and documented (hence called data) should be useful and giving benefit for human life. Useful data that are take place in the human processes are called information.

Information describes something; specific subject area or topic of interest. Understanding of that specific subject area or topic of interest is called knowledge. Knowledge is interpretative based on the available information and in most cases, experience as well. Objective knowledge is known as science, while people usually call subjective knowledge as perception. It is knowledge that drives and leads human into specific actions and decisions.

Accumulated knowledge in advance influence human behaviour and attitude which is called wisdom. Wisdom consist of ideals and principles that govern human personality and perspective.
---
Salam,
#./

Monday, December 24, 2007

Hidup itu Ibadah

“Hidup itu ibadah” cenderung menjadi kalimat mutiara motivator hidup. Kalimat2 spt ini seringkali menjadi slogan yg tumpul dan bias bagi banyak orang sehingga pesan yg terkandung tidak tersampaikan dgn baik. Ada beberapa alasan yg menjadi kemungkinan penyebab tumpul dan bias-nya kalimat2 tsb, misalnya:

1) Terlalu populer sehingga menjadi klise
2) Tidak relevan dan/atau tidak aplikatif dgn kenyataan alias tidak membumi
3) Mengandung pesan yg terlalu dalam sehingga justru jadi tidak dimengerti

Terlepas dari apa-pun kemungkinannya, artikel ini hendak memaknai sekaligus membumikan kalimat ”Hidup itu Ibadah”. Ibadah memiliki banyak dimensi (spt mahdhah/tuntunan agama, ghair mahdhah/sosial, tuntunan, hukum, dll), namun pada prinsipnya ibadah adalah perbuatan yg pasti positif. Apa yg positif dan bagaimana?

Nilai sebuah perbuatan diukur dari kompensasi hasil-manfaat dikurangi ongkos-usaha (biaya) atas perbuatan tsb. Apabila hasilnya positif maka perbuatan tsb mendatangkan untung. Sebaliknya, jika negatif maka perbuatan tsb merugi. Kompensasi utk mendapatkan nilai suatu perbuatan dicapai oleh transaksi yg menawarkan manfaat perbuatan tersebut. Mudah memahami transaksi dari suatu interaksi sosial, namun bagaimana halnya dgn nilai perbuatan yang sifatnya vertikal/pemenuhan tuntunan agama? Bagaimana kompensasinya? Jawabnya akan dibahas di tulisan Kompensasi Ibadah Vertikal.

Diperlukan ilmu dan keahlian utk memastikan hasil/manfaat atas biaya/upaya dari setiap perbuatan tsb agar memberi keuntungan. Artinya kita dituntut utk berilmu dalam bertindak utk memastikan nilai perbuatan tsb positif. Kapasitas keilmuan inilah yg akan menentukan seberapa besar keuntungan yg didapat dari rasio manfaat/usaha dari perbuatan tsb. Perlu dipertegas bahwa keuntungan yg nyata didapat dari penawaran manfaat, bukan dari penawaran bencana. Hal ini disebabkan adanya klaim keuntungan atas penawaran bencana. Yg spt demikian ini pada hakikatnya adalah kerugian di pihak yg lainnya. Keuntungan atas penawaran manfaat selayaknya adalah berbagi kebaikan. Jadi sebaik-baiknya orang adalah orang yg paling banyak penawaran manfaatnya.

Maka konsep "Hidup itu Ibadah" kini diharapkan memiliki makna yg lebih berarti dan jelas penerapannya. Pada kenyataannya slogan ini adalah konsep yg memastikan kita utk bertahan hidup dgn cara yg mulia. Orang yg memahami konsep bahwa "hidup itu ibadah" seharusnya selalu berusaha utk memperbanyak penawaran manfaatnya. Karena orang yg bermanfaat bukan hanya bisa bertahan hidup, tapi juga seharusnya mampu hidup layak. Dan utk memastikan kelayakan tsb maka keuntungan haruslah optimal dgn menjaga rasio manfaat atas usaha agar tidak besar pasak daripada tiang. Dan utk ini semua jelas ada ilmunya, termasuk utk memahami dan membumikan konsep slogan yg tampak mengawang2 spt yg satu ini.
---
Salam,
# ./

Kompensasi Ibadah Vertikal

Kompensasi adalah imbalan atau penggantian atas suatu usaha. Dalam suatu transaksi eknonomi, kompensasi bukan hanya merupakan penggantian ongkos, akan tetapi juga menyertakan komponen nilai laba. Pada kenyataannya, laba inilah yg menjadi fokus perhatian transaksi ekonomi. Dalam tulisan mengenai Hidup itu Ibadah telah dijelaskan bahwa pada prinsipnya ibadah tsb adalah perbuatan yg juga berorientasi thd laba. Memahami laba transaksi dari interaksi sosial dan ekonomi adalah mudah, namun bagaimana halnya dgn ibadah vertikal sebagai upaya pemenuhan tuntunan dan syari’at agama? Jika laba tsb ditangguhkan dan merujuk kepada konsep investasi, maka apakah benar bahwa investasi tersebut akan benar2 memetik hasilnya?

Einstein memang pernah mengemukakan teori relativitas. Namun diatas teori relativitas tsb tetap berdiri teori matematika absolute yg sederhana sebagai pondasi semua perhitungan persamaan-persamaan beliau. Artinya, segala teori ketidak-pastian tsb pada kenyataannya tetap memerlukan kepastian. Agar lebih yakin lagi, kepastian tsb pada akhirnya akan dijaminkan thd suatu hal sebagai terminal akhir.

Dalam hal ibadah vertikal, kompensasinya akan dijamin oleh Sang Penjamin, yg atas kehendak-Nya akan memastikan bahwa rasa gula relative di lidah anda akan tetap manis dan rasa garam relative di lidah anda akan tetap asin. Nilai, ukuran, takaran dan/atau kondisi sesuatu mungkin bisa berubah-ubah atau bahkan musnah seperti harga saham perusahaan yg bankrut atau nilai investasi bentuk2 lainnya yg fluktuatif. Akan tetapi selama ada jaminan yg jelas, maka hal tersebut menjadi tidak penting u/ dikhawatirkan.

./Salam,

Sunday, July 22, 2007

Profesional vs Personal Objective (Bag. 3)

Saya ingin mengutip ungkapan pendiri industri otomotif Honda, Soichiro Honda: "Action without philosophy is a lethal weapon. Philosophy without action is worthless".

Kombinasi antara penyimpangan motif profesional thd personal, jebakan rutinitas dan fenomena “ketika pesta usai” di bagian sebelumnya yg disertai dgn keluhan akut dapat berakibat kurang baik yakni: hilangnya profesionalisme dan integritas seseorang.

Disinilah target kutipan Soichiro Honda di atas: Pemberdayaan kembali karakter pribadi dgn filosofi (ilmu, kompetensi) dan tindakan (langkah kerja, initiatif response). Dgn filosofi dan tindakan kita mampu menjawab kondisi penyimpangan motif profesional vs personal.

Lantas bagaimana filosofi dan tindakan menjawabnya?
  1. Ikhlas, filosofi terampuh. Pemahaman akan kontribusi individu dan konsekuensi (termasuk kompensasi) akan sangat membantu sikap menerima yg positif ini.
  2. Memetakan ulang strategi karir vs tanggung jawab menghidupi diri (& keluarga). Jika perlu, pisahkan strategi profesional dan personal. Beruntung dan bersyukurlah jika kedua hal tsb bisa convergen (jadi satu).
  3. Merdekakan/bebaskan definisi visi, misi & strategi dari ikatan/status/atribut yg non-internal untuk memastikan semangat berdikari yg mandiri.
Khusus yg no.3, tulisan sebelumnya akan melengkapi konteks kalimat tsb.
---
(Selesai)
# ./

Profesional vs Personal Objective (Bag. 2)

Penyimpangan motif profesional vs personal adalah alamiah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menyelaraskan kedua hal tsb tidak selalu menjadi milik setiap orang. Ungkapan yg sering kita dengar dlm realita spt: "emang perusahan buapakmu bisa pilih2 kerjaan seenak udel sendiri..." adalah kemungkinan indikasi terjadinya penyimpangan motif ini. Kenyataannya, dapat pekerjaan saja sudah cukup beruntung.

Secara kaidah profesional, kita harus memenuhi tuntutan kinerja yg sesuai dgn komitmen modal dasar skill & kompetensi yg kita tawarkan. Apakah tuntutan kinerja tsb memberi kepuasan batin atau tidak, itu urusan lain. Namun secara personal, jelas tidak akan disangkal bahwa kepuasan batin memberi integritas tertinggi dalam pencapaian manusia.

Memang rutinitas bertahan hidup berpeluang besar u/ mengendalikan arah hidup kita. Singkatnya kita sebut terjebak rutinitas atau "Your routine is eating you alive". Gejala ini juga seringkali diikuti fenomena "ketika superstar turun pentas" atau "ketika pesta usai". Hampa & sepi, ya spt itulah. Ini sebenarnya tidak jadi masalah jika tidak diikuti oleh efek2 lainnya spt: demotivasi dan kehilangan etos kerja
---
(Bersambung)
# ./

Profesional vs Personal Objective (Bag. 1)

Keseharian aktifitas manusia dalam menghidupi diri dan keluarga diwarnai oleh motif profesional dan personal. Motif profesional jelas didukung oleh modal dasar skill & kompetensi. Sementara motif personal selain didukung oleh modal dasar di atas, juga dilatarbelakangi oleh tujuan kepuasan batin. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kedua hal ini berbeda kutub. Mengapa? Krn keduanya adalah hal yg dinamis yg berubah seiring dinamisnya kehidupan.

Sebagai contoh, faktor kendali seorang yg baru lulus sekolah tentu akan berbeda dgn yg telah berpengalaman puluhan tahun. Bagi para "fresh graduater", mungkin profesional & personal motif berhasil menyatu ketika mereka berhasil diserap lapangan kerja. Seiring berjalannya waktu, perbedaan kutub antara profesional & personal akan sangat mungkin terjadi.

Pembicaraan selesai sampai disini jika penyimpangan motif ini disikapi dgn ikhlas (krn ikhlas adalah "the ultimate solution"). Yg jadi masalah adalah jika hal ini menjadi suatu keluhan yg terakumulasi. Seringkali terjadi kebuntuan dalam menyikapi ketidak-harmonisan motif ini yg terutama disebabkan oleh kondisi klise: nafsu besar tenaga kurang. Ujung-ujungnya salah mengambil tindakan.
---
(Bersambung)
# ./

Saturday, July 14, 2007

To be Value Contributor by Your Asset(s)

One asked my opinion about money that works for you. Well, I do agree with financial independency concept, but I do not agree with “solely money works for you” concept. My comment was simply: it is partially true: money is important, but it is not everything.

More over, I would rather re-phrase “financial independency” with “survival independency” and re-phrase “money works for you” with “assets work for you”. So it will be sounding like this: Survival independency by assets that work for you. Question: Why is it like that?

As I said, financial independency with “money that works for you” concept may be partially true. In most cases, it does not bring you with the context of life realm. It is quite often that it becomes a virtual concept for many people, but it may be true for those who have money to be invested.

The phrase survival independency with “assets that work for you” concept relies in the asset(s) as the key word. A good asset is something that gives you benefit or positive cash flow. Financial accountant calls it the appreciative one. But the asset is not limited to material asset. As an example, knowledge has now stood as one important asset, termed as intellectual asset. So, what I am saying here is that asset has a broad kind of type ranging from material resources (including money) to non-material e.g. intellectuality property. As the addition to the meaning of good asset, it supposes to be giving contribution not only to you, but also to others. In fact, Islam cites three categories of precious asset:
  1. Applicable knowledge
  2. Good descendants
  3. God’s way sunk cost

From this point of view we may conclude:

  1. Asset concept is to be more down to earth than money concept
  2. By having good asset, you create demand to your own (hence enable positive cash flow)
  3. Asset concept encourages people to be more creative
  4. It brings the context of reality: everybody could be the one!

The example of this may range from a labor blue-collar or a professional worker to an executive business owner or even more a business investor. But again, the key message is to be value contributor to environment by your assets. Believe me; it helps you to refresh the meaning of your existence in this life. So, what is your asset(s)?

# ./